Tampilkan postingan dengan label pengetahuan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pengetahuan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 Oktober 2016

Nah!!! Inilah Mata Uang Di Negara Niue Yang Bergambar Pokemon


 Sebelum kita baahas masalah koin pokemon kita akan bahas apa itu pokemon
SEBAGIAN masyarakat dunia kini sedang menggandrungi Pokémon (ポケモン Pokemon) –diucapkan: /ˈpoʊkeɪmɒn/). Pokemon adalah salah satu waralaba media yang dimiliki oleh perusahaan permainan video Nintendo dan diciptakan oleh Satoshi Tajiri pada 1995. 
 
Pada mulanya, Pokémon adalah seri permainan video yang identik dengan konsol Game Boy.
Dilansir BBC, Pokemon Go adalah game augmented reality (realitas tertambah) di ponsel pintar menggunakan Sistem Pemosisi Global (GPS). Anda bermain dengan berjalan-jalan di dunia nyata menangkap monster virtual yang menggemaskan, seperti Pikachu dan Jigglypuff, di tempat-tempat dekat lokasi ponsel Anda dan melatih mereka untuk bertanding.




Mata uang bergambar Pokemon – Mumpung lagi ngetren-ngetrennya, kali ini uangindonesia.com juga akan ikut bahas Pokemon. Tapi yang akan saya bahas bukanlah sebuah game yang konon bikin pemainnya kesasar. Topik yang akan saya bahas di sini masih sama seperti sebelum-sebelumnya, tidak jauh dari uang, uang, dan uang.
Pasti sebagian pembaca ada yang bingung dan bertanya, “Memang ada ya hubungan antara Pokemon dan uang?” Hmm, sepertinya sih tidak ada hubungan khusus. Namun percayakah Anda bila ada sebuah negara yang mencetak mata uangnya dengan gambar Pokemon?


Niue, sebuah negara dengan mata uang bergambar pokemon

Kalau membicarakan Pokemon, sebenarnya negara yang dekat hubungannya adalah Jepang. Warga negara inilah yang menciptakan karakter dan game Pokemon. Tapi kok bisa-bisanya negara yang mencetak uang gambar Pokemon Niue? Bagaimana dan terletak di manakah negara Niue ini?
Ternyata Niru adalah sebuah negara yang terletak di Samudra Pasifik. Niue bukanlah bagian dari Jepang, tapi justru bagian dari sendiri Selandia Baru. Jadi kepala negara Selandia juga kepala negara kepulauan yang mendapat julukan Karang Polinesia itu.

Dan masalah uang gambar Pokemon yang dicetak negara Niue sebenarnya masih bagian dari dolar Selandia Baru juga. Hanya saja pemerintah setempat Niue mencetaknya untuk keperluan peringatan khusus.

Gambar mata uang bergambar Pokemon dari Negara Niue

Jika Anda penasaran penampakan uang bergambar tokoh anime dengan khas warna kuning itu, berikut saya sertakan gambarnya.


Selain uang bergambar Pokemon, sebenarnya Niue masih punya koin bergambar tokoh lainnya. Seperti karakter Disney, Doctor Who, Snow White, dan Star Wars. Mengapa bisa banyak begitu? Karena koin-koin ini dicetak guna memperingati peristiwa khusus dan juga pemerintah setempat selalu berusaha agar setiap tahun bisa menerbitkan yang baru.

Selasa, 11 Oktober 2016

Wah!!!! Ternyata Sungai Kapuas Dilingkupi Mitos Dan Kutukan (Kenyataan) Benarkah!!!!

Sungai Kapuas


Kuala Kapuas (disingkat: KLK[) adalah ibu kota dari Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah. Kota ini dilalui oleh Sungai Kapuas yang juga menjadi tulang punggung perekonomian daerah tersebut. Kuala Kapuas termasuk kota satelit bagi Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Dahulu, perjalanan dari Kuala Kapuas ke Banjarmasin melewati Sungai Kapuas dan Barito, sedangkan sekarang perjalanan tersebut bisa ditempuh dengan jalan darat melalui Jembatan Barito (dekat Banjarmasin) dan Jembatan Pulau Petak (Kuala Kapuas) dengan jarak 46 km.



Siapa orang di Indoensia yang tak kenal sungai Kapuas?

Kalau ada yang mengaku tak kenal sungai Kapuas, aku yakin, nilai pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)-nya, pasti jelek. Bukankah, sejak kita sekolah dasar, guru selalu memberi pertanyaan.

sungai kapuaspun juga di kenal sungai terpanjang di kalimantan.

Ketika itu, bila menyebut nama sungai Kapuas, selalu muncul bayangan, akan suatu petualangan seru. Menyusuri kelok alur sungai. Singgah di perkampungan. Mengamati pola hidup masyarakat, unik dan sahaja. Atau, malah dikejar-kejar penduduk lokal, karena mengintip gadis-gadis kampung sedang mandi.

Ya, bayangan dan fantasi itu muncul, karena aku begitu menikmati tokoh Tom Sawyer karya Mark Twain. Atau, pengembaraan para tokoh di buku Dr Karl May.


Sungai Kapuas merupakan sungai terpanjang di Indonesia. Sungai itu membentang sepanjang 1086 km dari hulu di Kabupaten Putussibau, hingga Kota Pontianak, Kalimantan Barat. Sungai Kapuas melewati Kabupaten Sintang, Sekadau, Sanggau, Pontianak dan Kota Pontianak. Lebar alur sungai Kapuas sekitar 70-150 meter, dengan kedalaman puluhan meter. Sungai ini, tidak pernah kering sepanjang tahun.

Semua kehidupan di Kalbar, seolah tak lepas dari aliran airnya. Sungai Kapuas menjadi urat nadi. Tak heran, di sepanjang aliran sungai Kapuas, segala yang berbau kehidupan, bakal muncul. Contoh saja, ketika orang Dayak mendirikan rumah betang (rumah panjang). Mereka akan mendirikan rumah di sepanjang aliran sungai. Tujuannya tak lain, memudahkan berbagai aktifitas kehidupan.

Sungai Kapuas menjadi jalur transportasi pengangkutan barang hingga kini. Bahkan, ketika beberapa wilayah kabupaten belum terhubung jalan raya, alur sungai Kapuas sangat penting peranannya. Orang menggunakan alur sungai Kapuas, untuk mengangkut sembilan kebutuhan pokok, hasil kebun, karet, bahkan manusia. Mereka menggunakan perahu motor bandung.

Ini perahu khas. Lebar 4-6 meter dengan panjang belasan meter. Bagian atas perahu menyerupai rumah. Bunyi mesin perahu menggelegar. Berirama ritmis dan konstan. Dung-dung-dung. Itulah yang membuat perahu ini, dinamakan perahu motor bandung.

Ketika RI konfrontasi dengan Malaysia pada tahun 1963, jalur sungai Kapuas begitu penting. Mobilisasi pasukan dari Pontianak ke sepanjang perbatasan, menggunakan perahu motor bandung.

Hingga kini, sungai Kapuas menjadi tempat berlabuh kapal barang dan penumpang dari luar propinsi. Artinya, sungai Kapuas menjadi pintu utama, keluar dan masuknya barang, dan manusia di Kalimantan Barat. Tak hanya itu, sungai Kapuas menjadi air kehidupan bagi masyarakat Kalbar. Masyarakat menggunakan sungai Kapuas untuk air minum, mandi, mengairi sawah dan kebun.

Sungai Kapuas menghidupi segala bentuk kehidupan masyarakat. Tak bisa dibayangkan, seandainya sungai Kapuas, tiba-tiba menghilang. Segala bentuk kehidupan juga bakal terampas.

Orang tidak bisa lagi mendayung sampan, menjual jasa menyeberangi sungai Kapuas. Anak kecil tak lagi berenang dan mandi, barang dan jasa dari luar atau dalam propinsi terhenti, dan Perusahaan Air Minum (PAM) tidak bisa beroperasi, karena tidak ada pasokan air. Apa jadinya?

Bagi aku, sungai Kapuas punya kenangan sendiri. Ini berhubungan dengan mitos dan kutukan. Ada kepercayaan di masyarakat Kalbar, bila orang sudah minum air sungai Kapuas, mereka akan kembali lagi ke Kalbar.

Ketika mendengar cerita ini, aku senyum-senyum saja. Ah, tahyul, kataku. Bagi orang yang telah mempelajari, dan berkutat dengan filsafat Materialisme, Dialektika, dan Historis (MDH), Karl Mark, cerita seperti itu, tentu aku anggap angin lalu saja.

Lalu, apa hubungan sungai Kapuas dengan aku?

Lima belas tahun silam, aku pernah berkeliaran, selama beberapa bulan di Kalbar. Menyambangi kawan. Bergaul di jalanan. Nongkrong di warung kopi. Minum dan mandi di sungai Kapuas. Begadang di tepian alurnya, sambil menikmati air sungai pasang. Pokoknya, tak bisa dipisahkan dengan aliran sungai Kapuas.

Di balik keterbukaan masyarakat, dan sifat kekeluargaannya, ada aura terpendam dan menyimpan bara. Masyarakat tersekat dalam berbagai isu etnis, agama, dan golongan. Alamnya ekstrem dan panas. Sulit mendapat air bersih, karena tanah gambut, dan kadar zat besinya tinggi. Jalan putus di mana-mana. Listrik selalu mati.

Segala konotasi buruk itulah, yang membuatku kembali ke Jawa. Aku ingat betul, sebelum kapal meninggalkan bibir sungai Kapuas, menuju lautan lepas, aku mengeluarkan sebuah kutukan dalam hati, “Aku tak ingin lagi melihat Kalbar.”

Selama belasan tahun, aku melupakan aliran sungai Kapuas. Aku menjalani rutinitas hidup di Jakarta. Tiba-tiba, ada seorang teman mengajak ke Kalbar. Menulis buku. Aku tercenung. Bayangan dan alur sungai Kapuas, kembali hadir. Sebelum pesawat lepas landas dari Cengkareng, aku seolah mencium bau dan aroma sungai Kapuas. Warna airnya. Kuat arusnya. Bonggol kayu terapung yang memenuhi aliran sungai. Ah, ia terlihat begitu dekat.

Menjelang pesawat mendarat, sebuah pemandangan hadir. Nun jauh di bawah, terlihat garis coklat memanjang. Berkelok-kelok tanpa putus di antara warna hijau pudar. Sepanjang sungai Kapuas, hutan telah gundul. Berbagai cabang anak sungainya, membuat sungai Kapuas seperti naga sedang tidur. Yang meletakkan kaki, sungut, dan kepalanya, untuk rehat.

Begitu mendarat, aku langsung bergumam. “Inilah tanah kutukan.” Aku dikutuk. Termakan mitos sungai Kapuas. Barang siapa telah minum air sungai Kapuas, ia akan kembali lagi.

Nyatanya, kutukan berlanjut. Selama hidup hampir setahun di Kalbar, aku harus memutuskan satu perkara. Yang tak pernah kupikirkan sebelumnya. Pernikahan. Kalimat apa itu? Bagiku, pernikahan adalah “kutukan”.

Bagaimana tidak?

Kita dipaksa memahami istri. Keluarga istri. Ayah, ibu, kakak, adik, paman, bibi, atau sederetan nama lainnya. Memaklumi kemauannya. Kesalahannya. Entah apa lagi. Semua itu, tentu menguras energi. Coba tanya, apa devinisi pernikahan pada seribu orang? Niscaya kita akan mendapat seribu jawaban berbeda. Pernikahan, begitu penuh misteri. Ada sesuatu yang harus kita pelajari, tiada henti.

Karena aku merasa telah dikutuk, aku harus bahagia dengan pernikahan ini. Kalau tidak bahagia, aku hanya membuang waktu saja. Begitulah, pikiranku menyikapi arti pernikahan.

Istriku lahir, besar, kuliah, mencari makan untuk hidup, di kota yang dialiri sungai Kapuas. Dalam daging dan aliran darahnya, mengalir denyut sungai Kapuas. Dia juga menjadi saksi dan memberitakan, segala peristiwa yang pernah terjadi di sepanjang sungai Kapuas.

Ya, begitulah. Faktanya, kehidupanku kini, tak lepas dari denyut sungai Kapuas. Sungai yang pernah kukutuk, dan tidak kupercayai mitosnya.

Kini, aku harus meleburkan diri.
Mencari makna mitos dan kutukan sungai Kapuas, dengan kebahagiaan.
Merangkul dan menikmati, setiap aliran dan arus sungai Kapuas, dengan gelegak energi. Memandang dan menikmati tetes demi tetes reguk airnya.

Meski, aliran sungai itu….
telah mengandung merkuri dan berbagai bahan beracun lainnya……

Jumat, 30 September 2016

Inilah Misteri Meriam Beranak Peninggalan Ratu Sepudak Kerajaan Sambas

Pusaka kerajaan :


   Kesultanan Sambas terletak di wilayah pesisir utara Provinsi Kalimantan Barat atau pada umumnya berada di wilayah barat laut Pulau Borneo dengan pusat pemerintahan di sebuah kota kecil yang berada di persimpangan 3 (tiga) sungai yaitu Sungai Sambas Kecil, Sungai Teberau, dan Sungai Subah. 
 
 Kesultanan Sambas merupakan penerus pemerintahan dari kerajaan-kerajaan Sambas sebelumnya yaitu Panembahan Ratu Sepudak di Kota Lama, Negeri Balai Pinang di Selakau, Kerajaan Tan Unggal, Kerajaan Nek Riuh, Kerajaan Wijayapura (data ini masih perlu rujukan), dan Kerajaan Raden Janur di Tanah Paloh.

Kesultanan Sambas banyak mewariskan benda-benda pusaka dari para leluhurnya seperti Tempayan Keramik dari Dataran Tiongkok, Pedang peninggalan para Sultan Sambas, Lela (meriam kecil), Tombak Canggah, Payung Ubur-ubur dari Negeri Brunai, Pakaian Kebesaran Sultan Sambas, Seperangkat alat untuk makan Sirih, dan Kaca Kristal dari Negeri Inggris dan Belanda.


Pada kesempatan kali ini, saya ingin membahas tentang sebuah benda pusaka peninggalan Kesultanan Sambas yang masih dikeramatkan hingga sekarang adalah Lela (meriam kecil) atau yang biasa dikenal masyarakat awam dengan sebutan Meriam Beranak.
Pusaka kerajaan yang berupa meriam kecil (lela) bisa bertambah sendiri tidak hanya berasal dari Kesultanan Sambas, banyak kerajaan-kerajaan yang notebane-nya bercorak Islam pun mempunyai cerita yang sama. Tapi kali ini ruang lingkup kita hanya di Kesultanan Sambas, ayo simak baik-baik ulasan singkat tentang benda pusaka meriam beranak Kesultanan Sambas.
 
Sepotong Sejarah Kerajaan Raden Janur - Tan Unggal - Ratu Sepudak
 
Bermula dari Raden Sulaiman, sultan pertama Kesultanan Sambas dan juga putra dari Raja Tengah yang berasal dari Kerajaan Brunai (Brunai Darussalam sekarang), menikah dengan Putri Bungsu dari Raja Panembahan Ratu Sepudak di Kota Lama bernama Raden Mas Ayu Bungsu. Dan dianugerahi seorang anak pertama yaitu seorang anak laki-laki yang bernama Raden Bima. Raden Sulaiman kemudian diangkat oleh Ratu Anom Kesumayuda menjadi salah satu Menteri Besar Panembahan Sambas bersama dengan Adinda Ratu Anom Kesumayuda yang bernama Raden Arya Mangkurat.

Karena intrik politik Raden Sulaiman dengan Raden Arya Mangkurat putra Ratu Sepudak, maka Raden Sulaiman hijrah ke Kota Bangun, mencari daerah baru sekitar abad 16 M. Di Kota Bangun ini, dengan dibantu para Panglima yang disebut Bantilan Tujuh Bersahabat, menuju terus ke hulu Sungai Sambas Kecil dan sampai di Desa Mensemat. 
Tahun 1648 M, Raden Sulaiman mendirikan Kota Bandir. Setelah sekitar 4 tahun menetap di Kota Bandir ini, secara tiba-tiba, Ratu Anom Kesumayuda datang menemui Raden Sulaiman dimana Ratu Anom Kesumayuda menyatakan bahwa ia dan sebagian besar petinggi dan penduduk Panembahan Sambas di Kota Lama akan berhijrah dari wilayah Sungai Sambas ini dan akan mencari tempat menetap yang baru di wilayah Sungai Selakau, disinilah Panembahan Balai Pinang berdiri, tetapi umur kerajaannya tidak panjang.
 
Tahun 1651 Raden Sulaiman hijrah ke Sungai Teberau, lalu menempati daerah kota Lubuk Madung (sekarang Desa Lubuk Legak), wilayah Desa Lubuk Dagang, Kecamatan Sambas. Di Kota Lubuk Madung Raden Sulaiman dilantik menjadi Sultan l dengan gelar Sultan Muhammad Safiuddin I (20 Agustus 1652 M/ 10 Zulhijjah 1040 H).
Pusat pemerintahan dipindah lagi di pertemuan 3 buah sungai yaitu Sungai Sambas kecil, Sungai Teberau dan Sungai Subah, yang dikenal Muara Ulakkan, yang dikenal dengan nama Kerajaan Alwatzikhoebillah Sambas oleh putra Raden Sulaiman yang bernama Raden Bima setelah pulang dari Negeri Brunai. 
 
Legenda Raden Sandi Dan Kerajaan Batu Bejamban
Di gedong pusaka, ada sebuah meja bundar berdaun batu marmer peninggalan kerajaan Sambas, yang di atasnya terletak tempat tidur berdinding kaca diselimuti kelambu kuning, tempat menyimpan 7 buah meriam kecil yang disitilahkan dengan Pusaka Hasil Pertapaan Kerajaan Sambas. Meriam- meriam kecil itu di bungkus seperti layaknya bayi saja. 
Awalnya, hanya terdapat 3 (tiga) pucuk lela atau meriam kecil pusaka Kerajaan Sambas Lama (Panembahan Sambas / Panembahan Ratu Sepudak) dari ibu negeri Sambas Kota Lama itu, khususnya hanya dipusakai manakala penobatan para Sultan Sambas saja. Ketiga-tiganya benda itu dimandikan dengan air langgir dan kasai, dipayungi dengan payung ubur-ubur dan dibesarkan dengan alat kebesaran upacara Kerajaan Sambas.
3 (tiga) meriam peninggalan Ratu Sepudak adalah:
  1. Raden Sambir, lela (meriam kecil) yang panjang berbuntut,
  2. Raden Mas, lela (meriam kecil) yang besar pendek,
  3. Raden Pajang, lela (meriam kecil) yang kecil pendek dan tidak berbuntut.

Benda-benda pusaka itu merupakan peninggalan dari Raden Sulaiman (Sultan Muhammad Safiuddin), hadiah dari mertuanya Ratu Sepudak,diceritakan meriam tersebut berasal dari hasil pertapaan Raja-raja Sambas terdahulu. Menurut kepercayaan meriam tersebut hanya berhasil diangkat apabila benda itu sendiri berkenan. "Walaupun kecil kalau "beliau" tidak berkenan tidak terangkat," demikian biasa warga masyarakat setempat menyatakannya misteri kesakralan benda keramat tersebut yang sebenarnya tergolong sebagai senjata api itu.

Anehnya, masih memiliki 4 saudara yang berupa meriam kecil juga. Keempat pusaka meriam kecil itu datang dengan sendirinya, masing-masing bernama: Raden Putri, Ratu kilat, Pangeran Pajajaran dan Panglima Guntur. Banyak yang berkeyakinan, bahwa barang-barang itu memiliki khodam dan kadang-kadang dapat menghilangkan diri dan sewaktu-waktu berkumpul kembali. 

Menurut Gusti Sofyan Kailani (60 th) kerabat dan sekaligus Penjaga Kamar Pusaka, saat ini Meriam Ratu Kilat sedang tidak ada ditempat dan telah lama pergi dari istana.itu biasanya akan menandakan kejadian alam luar biasa didunia. Namun menurutnya Meriam tersebut bisa saja tiba tiba ada ditempat(kembali dengan sendirinya). Karena menurut beliau, meriam itu bukan Raib, atau dicuri orang, melainkan pergi meninggalkan keraton untuk mengatasi sesuatu hal atau peristiwa. Tapi bila sudah sampai waktunya ia akan kembali dengan sendirinya.

Memang legenda yang berkembang sekarang kebanyakan memiliki makna yang tersirat. Banyak misteri yang belum terpecahkan karena kurangnya data yang dapat memperkuat dugaan yang selama ini terngiang di masyarakat. Bisa jadi ditilik dari nama-nama meriam itu, Kerajaan Sambas dulu sudah menjalin kerja sama dengan kerajaan-kerajaan di Jawa, seperti Kerajaan Pajajaran hingga Kerajaan Pajang. Hubungan yang erat itu diibaratkan berkumpulnya meriam-meriam tersebut dalam satu ranjang. Mungkin saja begitu karena Raja-raja Panembahan Ratu Sepudak berasal dari tanah Jawa tepatnya dari Negeri Majapahit.
 
 

Selasa, 13 September 2016

Inilah Cara Kerja Radiator Motor Untuk Mengatur Panas Mesin

Mesin saat ini sudah banyak yang dilengkapi dengan peralatan canggih. Terutama untuk mesin kendaraan mobil roda empat. Untuk mesin mobil memang cepat sekali dalam perkembangannya dalam hal mengelami perubahan. Terus melakukan perubahan untuk menjadikan mobil menjadi kendaraan yang super nyaman. 
 
Tak hanya mobil, rupanya kendaraan roda dua yang paling banyak digunakan di Indonesia ini juga tak kalah canggih macam-macam mesinnya. Modifikasi terus dilakukan untuk mendapatkan motor yang memang untuk kebutuhan semua pengendara. Komponen dari motor pun sangat diperhatikan. Dan diusahakan selalu ada hal baru tiap kali motor mengeluarkan iklannya. 
 
 
 
Cara Kerja Radiator Motor


Sementara itu bagian motor yang digunakan untuk mendinginkan mesin disebut radiator. Cara kerja radiator motor untuk mendinginkan mesin perlu Anda ketahui. Karena yang namanya mesin apabila dinyalakan terus menerus pasti yang akan terjadi adalah panas pada mesin kendaraan itu. Untuk mesin pendingin, memang bukan hanya terletak pada radiator. 

Namun bagian dari mesin yang berfungsi untuk mendinginkan ini terdiri dari radiator, kipas radiator, radiator cup, water pump dan masih banyak lagi beberapa komponen yang berfungsi untuk mendinginkan mesin ini. Salah satu yang akan dibahas kali ini yaitu cara kerja radiator motor.

Dalam radiator motor, memang biasanya mesin akan sangat cepat mengalami kepanasan. Jika sudah terjadi kerusakan mesin karena mesin yang terlalu panas, maka yang terjadi adalah mesin menjadi tidak bisa dihidupkan. Karena itu penting adanya radiator untuk mendinginkan bagian mesin. Untuk bagian-bagian radiator yang terdapat pada mesin motor semuanya berfungsi untuk mendinginkan mesin.

Anda perlu memiliki piranti ini. Tujuannya agar dengan diberikannya radiator, maka mesin dalam motor menjadi awet untuk berkendara. Sehingga Anda bebas memacu kendaraan Anda sejauh yang Anda inginkan. Tentunya dengan mengecek selalu kondisi dari komponen pendingin mesin Anda, terutama untuk bagian radiator. Baca juga Cara kerja mesin mobil injeksi.

Keunggulan lainnya dengan menggunakan radiator ini yaitu mesin motor menjadi lebih mudah dalam hal perawatan. Yang Anda perlukan memang kondisi mesin pada kendaraan Anda selalu bagus sehingga tak perlu lagi melakukan servis motor. Namun untuk mengetahui cara kerja radiator motor memang perlu dilihat secara langsung bagian radiator, apabila motor mengalami cepat panas selama berkendara. 

Motor usahakan untuk dalam keadaan stabil. Tidak terlalu panas namun tidak pula terlalu dingin. Jika kondisi mesin motor terlalu dingin, yang terjadi maka mesin tidak bisa dinyalakan sebagaimana mestinya. Namun jika kondisi motor rupanya terlalu panas, maka motor menjadi tidak awet karena kondisi mesin akan mudah mengalami kerusakan.

Inilah yang biasanya terjadi atau dialami oleh para pengendara roda dua. Mereka terlalu sering membawa kendaraan mereka sejauh yang mereka mau, namun kurang memperhatikan kondisi mesin mobilnya