Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 Oktober 2016

Kota Indah Pontianak | Inilah Asal Usul Dan Sejarah Tugu Khatulistiwa Pontianak Kalbar

Asal Usul Tugu Khatulistiwa Pontianak


Tugu Khatulistiwa terletak di sisi jalan Khatulistiwa, Pontianak Utara. Setiap tanggal 21 -23 Maret dan 21-23 September setiap tahun diperingati hari kulminasi matahari di tempat ini, yakni matahari tepat berada di atas garis khatulistiwa sehingga bayangan benda di tempat ini hilang.






Di kompleks Tugu Khatulistiwa sering pula diadakan agenda wisata khusus, seperti pertunjukan kesenian, pameran dan sebagainya. Berdasarkan catatan yang diperoleh pada tahun 1941 dari V. en. W oleh Opzihter Wiesedikutip dari Bijdragentot de geographie dari Chep Van den topographieschen dient in Nederlandsch Indie: Den 31 Sten Maart 1928, telah datang di Pontianak suatu ekspedisi internasional yang dipimpin seorang ahli geografi berkebangsaan Belanda untuk menentukan titik/tonggak garis equator di Pontianak.

Konstruksi awal Tugu Khatulistiwa yang pertama dibangun tahun 1928, hanya berbentuk tonggak dengan tanda panah. Tahun 1930 disempurnakan berbentuk tonggak dengan lingkaran dan tanda panah. Tahun 1938 dibangun kembali dengan penyempurnaan oleh arsitek Silaban. Pada tahun 1990 kembali Tugu Khatulistiwa tersebut direnovasi dengan pembuatan kubah untuk melindungi tugu asli serta pembuatan duplikat tugu dengan ukuran 5 kali lebih besar dari tugu yang asli. Tugu ini diresmikan pada tanggal 21 September 1991.

Bangunan tugu terdiri dari empat buah tonggak belian, masing-masing berdiameter 0,30 meter, dengan ketinggian tonggak bagian depan sebanyak dua buah setinggi 3,05 meter dan tonggak bagian belakang tempat lingkaran dan anak panah penunjuk arah setinggi 4,40 meter.Diameter lingkaran yang bertulisan EVENAAR 2,11 meter. Panjang penunjuk arah 2,15 meter. Tulisan plat di bawah anak panah tertera 109o 20′ OLvGr menunjukkan letak berdirinya tugu khatulistiwa pada garis Bujur Timur.

-----

Sjarah Tugu Khatulistiwa :

Tugu Khatulistiwa Pontianak di bangun pada tahun 1928 oleh tim Exspedisi Geograpi Internasional yang di pimpin oleh seorang ahli Geograpi berkebangsaan Belanda, yang dilakukan secara Astronomi, artinya bahwa Pengukuran yang mereka Lakukan tanpa mempergunakan alat yang canggih seperti satelit atau GPS, mereka hanya berpatokan pada Garis yang tidak Smooth (garis yang tidak rata / bergelombang) serta berpatokan benda-benda alam seperti, rasi bintang (Ilmu Falaq). 
 
                Tugu Khatulistiwa yang asli terbuat dari kayu Belian (kayu Besi, atau kayu ulin) terdiri dari empat tonggak yang mana 2 buah tonggak bagian depan dengan tinggi 3,05 Meter dari permukaan tanah, dan 2 buah tonggak bagian belakang dengan tinggi 4,40 meter dari permukaan tanah. Keterangan symbol berupa anak panah menunjukan arah utara – selatan (lintang 0`derajat). Keterangan symbol berupa flat lingkaran yang bertuliskan EVENAAR yang artinya Khatulistiwa (bahasa Belanda) menunjukan belahan garis khatulistiwa atau batas utara dan selatan. Sedangkan plat dibawah arah panah ditulis 109°20’0”0LvGR artinya garis khatulistiwa di Kota Pontianak bertepatan dengan 109° garis bujur timur 20 menit 00 detik GMT.
 
                Tugu khatulistiwa mempunyai beberapa tahap penyempurnaan yang dimulai dari tahun 1928 yaitu tahun 1930 yang disempurnakan adalah tonggak, lingkaran beserta tanda panah. Tahun 1938 disempurnakan lagi oleh arsitek Silaban adalah Lingkaran. Pada tahun 1990-1991 dibangun Duplikat/replika Tugu Khatulistiwa serta bangunan pelindung yang di bangun secara permanent berbentuk Kubah dan di resmikan pada tanggal 21 September 1991 Oleh Gubenur Kalimantan Barat Parjoko Suryo Kusomo.
 
                Garis khatulistiwa membentang melingkari tengah-tengah dan membelah bumi menjadi 2 (dua) belahan yang sama yaitu Belahan Utara dan Belahan Selatan. Garis  khatulistiwa  melewati  beberapa  kota di Provinsi Kalimantan Barat, yakni :  Sekadau, Nanga Dedai  dan  beberapa provinsi di Indonesia, di antaranya: 1. Provinsi  Sumatra Barat. 2. Provinsi  Riau. 3. Provinsi  Kalimantan Tengah. 4. Provinsi  Kalimantan Timur. 5. Provinsi  Sulawesi Tengah. 6.Provinsi Maluku  7. Provinsi  Irian Jaya. Selain itu juga  garis  khatulistiwa  tersebut melintasi  5  (lima) Negara di Benua Afrika, yakni : Gabon, Zaire, Uganda, Kenya dan Somalia. Di Amerika  latin, Garis Khatulistiwa melintasi 4 (empat) Negara, yakni : Equator, Peru, Colombia dan Brazil.
 
                Dalam kenyataannya Bumi selain berputar pada sumbunya (Rotasi) ,juga Berevolusi mengelilingi Matahari dengan periode satu tahun  (365,seperempat hari). Dengan adanya Rotasi tersebut, maka terjadi siang dan malam, dan dengan adanya revolusi bumi, maka timbul perubahan musim. Dalam 1 (satu) tahun, matahari melintasi garis Khatulistiwa sebanyak 2 (dua) kali, yakni : antara tanggal 21-23  Maret yang bergerak ke arah Utara dan antara 21-23 September bergerak kearah selatan. Kulminasi merupakan suatu kejadian, dimana matahari tepat berada di Garis Khatulistiwa.
 
                Pada siang hari terjadi kulminasi atas, yaitu bila pusat matahari benar-benar berada di Garis Khatulistiwa. Sedangkan kulminasi bawah terjadi bila pusat matahari berada di Garis Bujur di balik belahan bumi utara dan selatan. Bagi kita yang berada di Garis Khatulistiwa, matahari akan tampak di atas kepala, kulminasi atas, terjadi sekitar tanggal 21-23 Maret dan tanggal 21-23 September. Titik balik selatan terjadi sekitar tanggal 21 Desember dan titik balik utara terjadi sekitar tanggal 21 Juni. Titik perpotongan antara pusat matahari dengan Garis Khastulistiwa pada tanggal 21-23 Maret yang di sebut Vermal Equinox atau (awal Musim Semi). Untuk perpotongan yang terjadi pada tanggal 21-23 September di sebut Autum Equinox  (awal Musim Gugur).  
Ciri Khas Khatulistiwa  :    
 
                1.             Curah hujan yang tinggi
                2.             Suhu dan Temperatur  Tinggi
                3.             Sinar matahari menyinari terus menerus sepanjang masa. (melimpah).
 
                Kemudian tahun 2005 pada bulan Maret, posisi Tugu Khatulistiwa di Koreksi kembali oleh tim dari BPPT yang berkerja sama dengan Pemerintah Kota Pontianak Secara satelit, ternyata terdapat perbedaan ±117 m dari posisi yang asli kearah selatan Khatulistiwa. Perbedaan itu terjadi karna factor akurasi alat dan cara yang di gunakan pada waktu dulu dan sekarang. Menurut ahli Geologi, Bumi itu mengalami pergeseran secara alami sebanyak ± 1 mm, apalagi kalau terjadi gempa akan semakin besar pergeserannnya. Jadi perbedaan antara Pengukuran Astronomi (Ilmu Falaq)  dan Satelit tidaklah perlu kita perdebatkan, kita harus menghargai perbedaan dan jerih payah orang-orang terdahulu sebelum pengukuran secara satelit di temukan. Yang harus kita lakukan sekarang adalah memelihara dan melestarikan asset yang sangat berharga ini agar tidak hilang di makan jaman serta demi untuk generasi yang akan datang.
 
 
 

Jumat, 30 September 2016

Inilah Misteri Meriam Beranak Peninggalan Ratu Sepudak Kerajaan Sambas

Pusaka kerajaan :


   Kesultanan Sambas terletak di wilayah pesisir utara Provinsi Kalimantan Barat atau pada umumnya berada di wilayah barat laut Pulau Borneo dengan pusat pemerintahan di sebuah kota kecil yang berada di persimpangan 3 (tiga) sungai yaitu Sungai Sambas Kecil, Sungai Teberau, dan Sungai Subah. 
 
 Kesultanan Sambas merupakan penerus pemerintahan dari kerajaan-kerajaan Sambas sebelumnya yaitu Panembahan Ratu Sepudak di Kota Lama, Negeri Balai Pinang di Selakau, Kerajaan Tan Unggal, Kerajaan Nek Riuh, Kerajaan Wijayapura (data ini masih perlu rujukan), dan Kerajaan Raden Janur di Tanah Paloh.

Kesultanan Sambas banyak mewariskan benda-benda pusaka dari para leluhurnya seperti Tempayan Keramik dari Dataran Tiongkok, Pedang peninggalan para Sultan Sambas, Lela (meriam kecil), Tombak Canggah, Payung Ubur-ubur dari Negeri Brunai, Pakaian Kebesaran Sultan Sambas, Seperangkat alat untuk makan Sirih, dan Kaca Kristal dari Negeri Inggris dan Belanda.


Pada kesempatan kali ini, saya ingin membahas tentang sebuah benda pusaka peninggalan Kesultanan Sambas yang masih dikeramatkan hingga sekarang adalah Lela (meriam kecil) atau yang biasa dikenal masyarakat awam dengan sebutan Meriam Beranak.
Pusaka kerajaan yang berupa meriam kecil (lela) bisa bertambah sendiri tidak hanya berasal dari Kesultanan Sambas, banyak kerajaan-kerajaan yang notebane-nya bercorak Islam pun mempunyai cerita yang sama. Tapi kali ini ruang lingkup kita hanya di Kesultanan Sambas, ayo simak baik-baik ulasan singkat tentang benda pusaka meriam beranak Kesultanan Sambas.
 
Sepotong Sejarah Kerajaan Raden Janur - Tan Unggal - Ratu Sepudak
 
Bermula dari Raden Sulaiman, sultan pertama Kesultanan Sambas dan juga putra dari Raja Tengah yang berasal dari Kerajaan Brunai (Brunai Darussalam sekarang), menikah dengan Putri Bungsu dari Raja Panembahan Ratu Sepudak di Kota Lama bernama Raden Mas Ayu Bungsu. Dan dianugerahi seorang anak pertama yaitu seorang anak laki-laki yang bernama Raden Bima. Raden Sulaiman kemudian diangkat oleh Ratu Anom Kesumayuda menjadi salah satu Menteri Besar Panembahan Sambas bersama dengan Adinda Ratu Anom Kesumayuda yang bernama Raden Arya Mangkurat.

Karena intrik politik Raden Sulaiman dengan Raden Arya Mangkurat putra Ratu Sepudak, maka Raden Sulaiman hijrah ke Kota Bangun, mencari daerah baru sekitar abad 16 M. Di Kota Bangun ini, dengan dibantu para Panglima yang disebut Bantilan Tujuh Bersahabat, menuju terus ke hulu Sungai Sambas Kecil dan sampai di Desa Mensemat. 
Tahun 1648 M, Raden Sulaiman mendirikan Kota Bandir. Setelah sekitar 4 tahun menetap di Kota Bandir ini, secara tiba-tiba, Ratu Anom Kesumayuda datang menemui Raden Sulaiman dimana Ratu Anom Kesumayuda menyatakan bahwa ia dan sebagian besar petinggi dan penduduk Panembahan Sambas di Kota Lama akan berhijrah dari wilayah Sungai Sambas ini dan akan mencari tempat menetap yang baru di wilayah Sungai Selakau, disinilah Panembahan Balai Pinang berdiri, tetapi umur kerajaannya tidak panjang.
 
Tahun 1651 Raden Sulaiman hijrah ke Sungai Teberau, lalu menempati daerah kota Lubuk Madung (sekarang Desa Lubuk Legak), wilayah Desa Lubuk Dagang, Kecamatan Sambas. Di Kota Lubuk Madung Raden Sulaiman dilantik menjadi Sultan l dengan gelar Sultan Muhammad Safiuddin I (20 Agustus 1652 M/ 10 Zulhijjah 1040 H).
Pusat pemerintahan dipindah lagi di pertemuan 3 buah sungai yaitu Sungai Sambas kecil, Sungai Teberau dan Sungai Subah, yang dikenal Muara Ulakkan, yang dikenal dengan nama Kerajaan Alwatzikhoebillah Sambas oleh putra Raden Sulaiman yang bernama Raden Bima setelah pulang dari Negeri Brunai. 
 
Legenda Raden Sandi Dan Kerajaan Batu Bejamban
Di gedong pusaka, ada sebuah meja bundar berdaun batu marmer peninggalan kerajaan Sambas, yang di atasnya terletak tempat tidur berdinding kaca diselimuti kelambu kuning, tempat menyimpan 7 buah meriam kecil yang disitilahkan dengan Pusaka Hasil Pertapaan Kerajaan Sambas. Meriam- meriam kecil itu di bungkus seperti layaknya bayi saja. 
Awalnya, hanya terdapat 3 (tiga) pucuk lela atau meriam kecil pusaka Kerajaan Sambas Lama (Panembahan Sambas / Panembahan Ratu Sepudak) dari ibu negeri Sambas Kota Lama itu, khususnya hanya dipusakai manakala penobatan para Sultan Sambas saja. Ketiga-tiganya benda itu dimandikan dengan air langgir dan kasai, dipayungi dengan payung ubur-ubur dan dibesarkan dengan alat kebesaran upacara Kerajaan Sambas.
3 (tiga) meriam peninggalan Ratu Sepudak adalah:
  1. Raden Sambir, lela (meriam kecil) yang panjang berbuntut,
  2. Raden Mas, lela (meriam kecil) yang besar pendek,
  3. Raden Pajang, lela (meriam kecil) yang kecil pendek dan tidak berbuntut.

Benda-benda pusaka itu merupakan peninggalan dari Raden Sulaiman (Sultan Muhammad Safiuddin), hadiah dari mertuanya Ratu Sepudak,diceritakan meriam tersebut berasal dari hasil pertapaan Raja-raja Sambas terdahulu. Menurut kepercayaan meriam tersebut hanya berhasil diangkat apabila benda itu sendiri berkenan. "Walaupun kecil kalau "beliau" tidak berkenan tidak terangkat," demikian biasa warga masyarakat setempat menyatakannya misteri kesakralan benda keramat tersebut yang sebenarnya tergolong sebagai senjata api itu.

Anehnya, masih memiliki 4 saudara yang berupa meriam kecil juga. Keempat pusaka meriam kecil itu datang dengan sendirinya, masing-masing bernama: Raden Putri, Ratu kilat, Pangeran Pajajaran dan Panglima Guntur. Banyak yang berkeyakinan, bahwa barang-barang itu memiliki khodam dan kadang-kadang dapat menghilangkan diri dan sewaktu-waktu berkumpul kembali. 

Menurut Gusti Sofyan Kailani (60 th) kerabat dan sekaligus Penjaga Kamar Pusaka, saat ini Meriam Ratu Kilat sedang tidak ada ditempat dan telah lama pergi dari istana.itu biasanya akan menandakan kejadian alam luar biasa didunia. Namun menurutnya Meriam tersebut bisa saja tiba tiba ada ditempat(kembali dengan sendirinya). Karena menurut beliau, meriam itu bukan Raib, atau dicuri orang, melainkan pergi meninggalkan keraton untuk mengatasi sesuatu hal atau peristiwa. Tapi bila sudah sampai waktunya ia akan kembali dengan sendirinya.

Memang legenda yang berkembang sekarang kebanyakan memiliki makna yang tersirat. Banyak misteri yang belum terpecahkan karena kurangnya data yang dapat memperkuat dugaan yang selama ini terngiang di masyarakat. Bisa jadi ditilik dari nama-nama meriam itu, Kerajaan Sambas dulu sudah menjalin kerja sama dengan kerajaan-kerajaan di Jawa, seperti Kerajaan Pajajaran hingga Kerajaan Pajang. Hubungan yang erat itu diibaratkan berkumpulnya meriam-meriam tersebut dalam satu ranjang. Mungkin saja begitu karena Raja-raja Panembahan Ratu Sepudak berasal dari tanah Jawa tepatnya dari Negeri Majapahit.
 
 

Minggu, 18 September 2016

Inilah Sejarah Tugu Monoas Jakarta Sebagai Monumen Nasional

Sejarah Tugu Monas Jakarta | Monumen Nasional



Monas (monumen nasional) adalah monumen kebanggaan warga Jakarta sekaligus Indonesia. Jika Paris (Perancis) mempunyai menara Eiffel dan New York (Amerika Serikat) mempunyai patung liberty, maka Indonesia mempunyai monas. Tentu Monas tidaklah ada begitu saja, ada perjalanan cukup panjang di balik pembangunannya. Tahukah kamu tentang sejarah dibangunnya Monas? Berikut kami rangkumkan sejarah berdirinya monumen nasional kebanggaan bangsa Indonesia tersebut.

Gagasan Soekarno



Tahun 1949 Negara Kesatuan Republik Indonesia diakui sebagai sebuah Negara berdaulat oleh pemerintahan Belanda.

Sejak saat itu ibu kota kembali ke Jakarta yang sebelumnya di Yogyakarta.
Saat itulah Presiden Soekarno sangat menginginkan membuat sebuah bangunan monumen yang menggambarkan perjuangan bangsa Indonesia dalam mewujudkan kemerdekannya. Agar Jakarta dan Indonesia juga setara dengan ibu kota Negara-negara besar kala itu, Soekarno menginginkan tugu peringatan atau monumen tersebut nantinya bisa menyamai kemegahan menara Eiffel.

Soekarno juga menjelaskan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar, hal tersebut dapat dilihat dari peninggalan budaya seperti Candi Borobudur dan Prambanan yang merupakan terbesar di dunia. Kalau pada masa awal sejarah Indonesia telah mempunyai monument berupa candi yang megah, Soekarno juga menginginkan hal yang sama di masa sejarah modern Bangsa Indonesia.

Usaha-usaha Awal Mendirikan Monas


Gagasan Presiden Soekarno tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan pembentukan sebuah komite nasional pembangunan Monas pada tanggal 17 Agustus 1954. Kemudian sayembara mendesain dan merancang Monas pun diadakan pada tahun 1955.

Terdapat 51 karya yang masuk, akan tetapi hanya satu karya yang dibuat oleh Frederich Silaban yang memenuhi kriteria yang ditentukan komite, antara lain menggambarkan karakter bangsa Indonesia dan dapat bertahan selama berabad-abad. Sayembara kedua digelar pada tahun 1960 namun sekali lagi tak satupun dari 136 peserta yang memenuhi kriteria.

Soekarno kemudian meminta F. Silaban merancang Monas dengan konsep lingga dan yoni. Hasil karyanya kemudian diteruskan oleh arsitek lain bernama R.M. Soedarsono. Akhirnya rancangan itulah yang disetujui oleh Presiden Soekarno.

Pembangunan Monas



Tugu Peringatan Nasional tersebut dibangun di areal seluas 80 hektare. Tugu yang diarsiteki oleh Friedrich Silaban dan R. M. Soedarsono itu mulai dibangun pada 17 Agustus 1961. Periode pertama pembangunan monas dilakukan pada kurun waktu tahun 1961 hingga 1965.

Pada tahap awal yaitu membangun fondasi. Pembangunan fondasi diselesaikan hingga bulan Maret 1962. Dinding museum di dasar Monas selesai dibangun pada Oktober 1962. Setelah dasar Monas selesai dibangun, tahap selanjutnya adalah membangun obelisk (bangunan menjulang). Pembangunan obelisk diselesaikan pada Agustus 1963.

Akibat adanya pemberontakan PKI, pembangunan Monas terhambat. Pembangunnya kembali dilanjutkan pada kurun 1966 hingga 1968. Tahap pembangunan berikutnya adalah antara 1969 hingga 1976 dengan menambahkan diorama pada bagian museum. Monas diresmikan dan dibuka untuk umum oleh Presiden Soeharto pada 12 Juli 1975

Struktur Monas



Struktur Monas sebagaimana arahan Presiden Soekarno adalah berkonsep lingga dan yoni. Menurutnya hal tersebut adalah ciri khas budaya bangsa Indonesia yang sudah turun temurun ditunjukkan dalam konsep pembangunan candi-candi bersejarah.

Konsep tersebut juga bermakna kehidupan abadi, adanya unsur positif (lingga) dan unsur negatif (yoni) seperti adanya siang dan malam, laki-laki dan perempuan, baik dan buruk, yang membentuk keabadian dunia. Yoni diwujudkan dalam dasar Monas berbentuk segi empat, sedangkan Lingga berupa tugu yang menjulang tinggi.

Untuk memaknai konsep nasional dengan semangat perjuangan merebut kemerdekaan maka digunakan angka 17-8-45 (angka hari proklamasi)dalam pengukuran bentuk bangunan. Sifat dinamis dan bergerak diejawantahkan dalam bentuk garis-garis asitektur tugu merata, naik melengkung, melompat, merata lagi, lalu naik menjulang tinggi, akhirnya menggelombang di atas membentuk lidah api yang menyala.

Badan tugu menjulang tinggi dengan lidah api di puncaknya melambangkan dan menggambarkan api yang berkobar yang tak kunjung padam di dalam dada bangsa Indonesia. Museum nasional adalah rekaman sejarah yang bisa dilihat dalam diorama. Hal itu untuk mengingatkan pada generasi berikutnya tentang perjuangan bangsanya. Soekarno juga mensyaratkan bangunan tugu dibangun dengan bahan-bahan yang tahan berabad-abad.

Ukuran dan isi monumen


Monumen ini dibangun dengan tinggi 132 meter berbentuk lingga dan yoni. Seluruh bangunan dilapisi marmer.
http://wisata.i.kumpulan.info

Lidah api

Pada puncak monumen ada cawan yang di atasnya menyala api perunggu setinggi 17 meter dan diameter 6 meter dengan berat 14.5 ton. Api ini dilapisi dengan emas seberat 45 kg. Api monumen terdiri dari 77 bagian yang disatukan.

Pelataran puncak

Pelataran puncak memiliki luas halaman 11 x 11 m. untuk mencapai puncak, pengunjung dapat menggunakan Lift dengan waktu tempuh sekitar 3 menit. Di sekitar elevator terdapat tangga darurat.
Dari halaman puncak Monas, pengunjung bisa melihat gedung-gedung pencakar langit di kota Jakarta. Bahkan jika udara jelas, pengunjung dapat melihat Gunung Salak di Jawa Barat serta Laut Jawa dengan Kepulauan Seribu.

Pelataran bawah

Halaman bawah memiliki luas 45 x 45 m. Dari dasar monumen ke pelataran bawah sekitar 17 meter. Di bagian ini Anda bisa melihat Taman Monas yang merupakan hutan kota yang indah.

Museum perjuangan Nasional Sejarah

Di bagian bawah monumen terdapat ruang yang luas, yaitu Museum Nasional. Museum ini menampilkan sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Kawasan Museum seluas 80 x 80m yang pada keempat sisi Museum ada 12 diorama (demonstrasi jendela) yang menampilkan sejarah Indonesia dari zaman kerajaan leluhur bangsa Indonesia sampai G30S PKI.

Patung di Sekitar Monas


Untuk memotret perjuangan bangsa Indonesia dalam mendirikan negara ini, maka dibuatlah beberapa patung di sekitar Monas. Di sebelah timur laut dibuat kelompok patung perebutan kekuasaan dan penjajahan Jepang. Di sebelah tenggara terdapat kelompok patung pahlawan 10 November 1945. Di sebelah barat daya yaitu kelompok patung pembentukan Tentara Nasional Indonesia, sebagai pemersatu angkatan bersenjata. Dan di sebelah barat laut yaitu kelompok patung kebulatan Negara Kesatuan RI (masa pembangunan).

Bangsa yang besar adalah yang menghargai jasa para pahlawannya. Dengan mengerti sejarah pendirian Monas dan tujuannya, semoga tertanam nilai-nilai kebangsaan yang unggul dalam diri kita. Semoga artikel ini bermanfaat.