Tampilkan postingan dengan label peninggalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label peninggalan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 September 2016

Inilah Misteri Meriam Beranak Peninggalan Ratu Sepudak Kerajaan Sambas

Pusaka kerajaan :


   Kesultanan Sambas terletak di wilayah pesisir utara Provinsi Kalimantan Barat atau pada umumnya berada di wilayah barat laut Pulau Borneo dengan pusat pemerintahan di sebuah kota kecil yang berada di persimpangan 3 (tiga) sungai yaitu Sungai Sambas Kecil, Sungai Teberau, dan Sungai Subah
 
 Kesultanan Sambas merupakan penerus pemerintahan dari kerajaan-kerajaan Sambas sebelumnya yaitu Panembahan Ratu Sepudak di Kota Lama, Negeri Balai Pinang di Selakau, Kerajaan Tan Unggal, Kerajaan Nek Riuh, Kerajaan Wijayapura (data ini masih perlu rujukan), dan Kerajaan Raden Janur di Tanah Paloh.

Kesultanan Sambas banyak mewariskan benda-benda pusaka dari para leluhurnya seperti Tempayan Keramik dari Dataran Tiongkok, Pedang peninggalan para Sultan Sambas, Lela (meriam kecil), Tombak Canggah, Payung Ubur-ubur dari Negeri Brunai, Pakaian Kebesaran Sultan Sambas, Seperangkat alat untuk makan Sirih, dan Kaca Kristal dari Negeri Inggris dan Belanda.


Pada kesempatan kali ini, saya ingin membahas tentang sebuah benda pusaka peninggalan Kesultanan Sambas yang masih dikeramatkan hingga sekarang adalah Lela (meriam kecil) atau yang biasa dikenal masyarakat awam dengan sebutan Meriam Beranak.
Pusaka kerajaan yang berupa meriam kecil (lela) bisa bertambah sendiri tidak hanya berasal dari Kesultanan Sambas, banyak kerajaan-kerajaan yang notebane-nya bercorak Islam pun mempunyai cerita yang sama. Tapi kali ini ruang lingkup kita hanya di Kesultanan Sambas, ayo simak baik-baik ulasan singkat tentang benda pusaka meriam beranak Kesultanan Sambas.
 
Sepotong Sejarah Kerajaan Raden Janur - Tan Unggal - Ratu Sepudak
 
Bermula dari Raden Sulaiman, sultan pertama Kesultanan Sambas dan juga putra dari Raja Tengah yang berasal dari Kerajaan Brunai (Brunai Darussalam sekarang), menikah dengan Putri Bungsu dari Raja Panembahan Ratu Sepudak di Kota Lama bernama Raden Mas Ayu Bungsu. Dan dianugerahi seorang anak pertama yaitu seorang anak laki-laki yang bernama Raden Bima. Raden Sulaiman kemudian diangkat oleh Ratu Anom Kesumayuda menjadi salah satu Menteri Besar Panembahan Sambas bersama dengan Adinda Ratu Anom Kesumayuda yang bernama Raden Arya Mangkurat.

Karena intrik politik Raden Sulaiman dengan Raden Arya Mangkurat putra Ratu Sepudak, maka Raden Sulaiman hijrah ke Kota Bangun, mencari daerah baru sekitar abad 16 M. Di Kota Bangun ini, dengan dibantu para Panglima yang disebut Bantilan Tujuh Bersahabat, menuju terus ke hulu Sungai Sambas Kecil dan sampai di Desa Mensemat. 
Tahun 1648 M, Raden Sulaiman mendirikan Kota Bandir. Setelah sekitar 4 tahun menetap di Kota Bandir ini, secara tiba-tiba, Ratu Anom Kesumayuda datang menemui Raden Sulaiman dimana Ratu Anom Kesumayuda menyatakan bahwa ia dan sebagian besar petinggi dan penduduk Panembahan Sambas di Kota Lama akan berhijrah dari wilayah Sungai Sambas ini dan akan mencari tempat menetap yang baru di wilayah Sungai Selakau, disinilah Panembahan Balai Pinang berdiri, tetapi umur kerajaannya tidak panjang.
 
Tahun 1651 Raden Sulaiman hijrah ke Sungai Teberau, lalu menempati daerah kota Lubuk Madung (sekarang Desa Lubuk Legak), wilayah Desa Lubuk Dagang, Kecamatan Sambas. Di Kota Lubuk Madung Raden Sulaiman dilantik menjadi Sultan l dengan gelar Sultan Muhammad Safiuddin I (20 Agustus 1652 M/ 10 Zulhijjah 1040 H).
Pusat pemerintahan dipindah lagi di pertemuan 3 buah sungai yaitu Sungai Sambas kecil, Sungai Teberau dan Sungai Subah, yang dikenal Muara Ulakkan, yang dikenal dengan nama Kerajaan Alwatzikhoebillah Sambas oleh putra Raden Sulaiman yang bernama Raden Bima setelah pulang dari Negeri Brunai. 
 
Legenda Raden Sandi Dan Kerajaan Batu Bejamban
Di gedong pusaka, ada sebuah meja bundar berdaun batu marmer peninggalan kerajaan Sambas, yang di atasnya terletak tempat tidur berdinding kaca diselimuti kelambu kuning, tempat menyimpan 7 buah meriam kecil yang disitilahkan dengan Pusaka Hasil Pertapaan Kerajaan Sambas. Meriam- meriam kecil itu di bungkus seperti layaknya bayi saja. 
Awalnya, hanya terdapat 3 (tiga) pucuk lela atau meriam kecil pusaka Kerajaan Sambas Lama (Panembahan Sambas / Panembahan Ratu Sepudak) dari ibu negeri Sambas Kota Lama itu, khususnya hanya dipusakai manakala penobatan para Sultan Sambas saja. Ketiga-tiganya benda itu dimandikan dengan air langgir dan kasai, dipayungi dengan payung ubur-ubur dan dibesarkan dengan alat kebesaran upacara Kerajaan Sambas.
3 (tiga) meriam peninggalan Ratu Sepudak adalah:
  1. Raden Sambir, lela (meriam kecil) yang panjang berbuntut,
  2. Raden Mas, lela (meriam kecil) yang besar pendek,
  3. Raden Pajang, lela (meriam kecil) yang kecil pendek dan tidak berbuntut.

Benda-benda pusaka itu merupakan peninggalan dari Raden Sulaiman (Sultan Muhammad Safiuddin), hadiah dari mertuanya Ratu Sepudak,diceritakan meriam tersebut berasal dari hasil pertapaan Raja-raja Sambas terdahulu. Menurut kepercayaan meriam tersebut hanya berhasil diangkat apabila benda itu sendiri berkenan. "Walaupun kecil kalau "beliau" tidak berkenan tidak terangkat," demikian biasa warga masyarakat setempat menyatakannya misteri kesakralan benda keramat tersebut yang sebenarnya tergolong sebagai senjata api itu.

Anehnya, masih memiliki 4 saudara yang berupa meriam kecil juga. Keempat pusaka meriam kecil itu datang dengan sendirinya, masing-masing bernama: Raden Putri, Ratu kilat, Pangeran Pajajaran dan Panglima Guntur. Banyak yang berkeyakinan, bahwa barang-barang itu memiliki khodam dan kadang-kadang dapat menghilangkan diri dan sewaktu-waktu berkumpul kembali. 

Menurut Gusti Sofyan Kailani (60 th) kerabat dan sekaligus Penjaga Kamar Pusaka, saat ini Meriam Ratu Kilat sedang tidak ada ditempat dan telah lama pergi dari istana.itu biasanya akan menandakan kejadian alam luar biasa didunia. Namun menurutnya Meriam tersebut bisa saja tiba tiba ada ditempat(kembali dengan sendirinya). Karena menurut beliau, meriam itu bukan Raib, atau dicuri orang, melainkan pergi meninggalkan keraton untuk mengatasi sesuatu hal atau peristiwa. Tapi bila sudah sampai waktunya ia akan kembali dengan sendirinya.

Memang legenda yang berkembang sekarang kebanyakan memiliki makna yang tersirat. Banyak misteri yang belum terpecahkan karena kurangnya data yang dapat memperkuat dugaan yang selama ini terngiang di masyarakat. Bisa jadi ditilik dari nama-nama meriam itu, Kerajaan Sambas dulu sudah menjalin kerja sama dengan kerajaan-kerajaan di Jawa, seperti Kerajaan Pajajaran hingga Kerajaan Pajang. Hubungan yang erat itu diibaratkan berkumpulnya meriam-meriam tersebut dalam satu ranjang. Mungkin saja begitu karena Raja-raja Panembahan Ratu Sepudak berasal dari tanah Jawa tepatnya dari Negeri Majapahit.
 
 

Selasa, 13 September 2016

Inilah Negeri Meukutop Paloh Bergabung ke dalam Forum Raja-Raja Aceh

Banda Aceh - Negeri Meukutop Paloh menyatakan bergabung dengan Forum Pewaris Khasanah Raja-Raja Aceh (FPKRA). Setelah acara Seumuleueng di negeri Meureuhom Daya, Gle Jong, Lamno, Aceh Jaya pada 3 hari raya Idul Adha ke 3 bertepatan dengan 17 Oktober 2013, bekas negeri pimpinan Teungku Chik Di Paloh tersebut menilai bahwa FPKRA sudah memenuhi syarat sebagai forum bersama.

Demikian kata Pemangku Peutua Chik Meukutop, Thayeb Loh Angen, di Banda Aceh, Kamis, 24 Oktober 2013 dalam pertemuan dengan Ketua FPKRA Teuku Raja Zulkarnaini. Menurutnya, Negeri Meukutop Paloh merupakan negeri berdaulat keurajeuen Tengku Chik Di Paloh tanpa ikut campur tangan sultan.

“Negeri Meukutop merupakan pemerintahan yang dipimpin oleh ulama tanpa memakai sistem dinasti dan otoritas sebagaimana kerajaan. Saya telah meneliti hal ini sejak beberapa tahun terakhir. Setelah menusuri jejak ulama dan raja ke Pantai Barat Selatan Aceh, saya merasa bertanggung jawab membuka sejarah ini ke publik,” kata Thayeb.

Kata Thayeb, menurut hasil penelitiannya, luas wilayah Negeri Meukutop melintang dari pantai bagian Barat Aceh Utara dan pantai Kota Lhokseumawe sekarang sampai Gunung Geureudong, persis luas Daerah I Wilayah Samudera Pase dalam struktur pemerintahan GAM.

“Kalau dari dari arah Barat ke Timur, wilayah Negeri Meukutop terbentang dari sungai Krueng Mane ke Sungai Krueng Cunda yang muaranya ada dua. Pembukan dan pemimpin perrtama negeri ini adalah Teungku Chik Di Paloh yang bernama asli Syekh Abdussalam,” kata Thayeb yang tidak memakai nama kebangsawanan ‘Teuku’ di hadapan namanya sebagaimana kebanyakan keturunan Teungku Chik Di Paloh.

Thayeb menjelaskan, Teungku Chik Di Paloh memiliki beberapa saudara, di antaranya, kata dia, Toh Susoh atau Teungku Jakfar yang mendirikan kerajaan Trumon, Teungku Chik Awe Geutah, Teungku Chik Pinto Reumba (Kec. Trumon Timur sekarang -red), Teungku Chik di Pasi (di Gampong Ie Leubue, Pidie sekarang -red), Teungku Chik Tuan Tapa di Tapak Tuan, Aceh Selatan.

“Saudara Teungku Chik Di Paloh lain adalah Raja Hilang di Takengon, Mamang Dua Jat yang dikenal dengan nama Putroe Hijo di Takengon, Tu Praja Padang Keujruen Teumieng (anaknya Ulee Balang Kuala Simpang). Ia merupakan anak tu Praja Meuluweuek bin tu Praja Chik Yaman, adik dari Tu Praja Chik Yaman adalah Tu Praja Banten yang mengembangkan peradaban Islam di Banten dan barat pulau Jawa,” kata Thayeb.

Pengaruh Teungku Chik Di Paloh, kata dia, melewati batas negerinya karena para ulama dan bangsawan masa itu sering berdiskusi dengannya tentang urusan dunia dan agama. Negeri Meukutop, kata dia, semacam dayah besar lintas negeri. Pusatnya berada, menurut Thayeb, di kampung yang kini bernama Paloh Dayah.

Kulam Dayah atau kolam peninggalan Teungku Chik Di Paloh, di Paloh Dayah, Lhokseumawe.
"Paloh Dayah atau Dayah Paloh maksudnya adalah dayah Teungku Chik Di Paloh. Salah satu peninggalan penting dari ualama keturunan hadrami tersebut adalah sebuah rumah Aceh berukuran besar. Namun pada awal abad XX dibakar oleh tentara Belanda, saat itu nenek saya almarhumah Cut Sapuan masih kecil," kata Thayeb.

Menurutnya, Cut Sapuan kecil ikut lari ke hutan buloh Blang Ara bersama ibunya untuk menghindari pemaksaan penandatanganan Vorteklaring (surat pengakuan kedaulatan Belanda di Aceh yang ditujukan kepada raja-raja dan ulee balang di wilayah Aceh Darussalam -red). Karena penyerangannya terhadap Aceh dan pembakaran rumah tersebutlah, kata dia, beberapa waktu lalu di Banda Aceh, dirinya menolak diwawancarai oleh seorang akademisi S3 Belanda untuk buku sejarah mereka tentang Aceh.

"Kami tidak perlu sejarah Aceh yang ditulis penjajah. Kami bisa menulis sejarah kami sendiri. Saya tidak minta rumah nenek saya dibangun kembali, namun secara etika bangsa beradab, raja atau Pemerintah Belanda harus minta maaf kepada rakyat Aceh terhadap perlakuannya tersebut,” kata Thayeb yang juga aktivis kebudayaan di Pusat Kebudayaan Aceh-Turki (PuKAT).pd